Arsip Tag: Pajak

Pindah Alamat NPWP Agar Sesuai KTP

Halo semuanya, gw akan berbagi pengalaman tentang pindah alamat NPWP agar sesuai KTP. Pertanyaannya, penting kah mengurus itu?

Well, jawabannya sebenernya situasional atau sesuai kebutuhan haha.. Tapi, layaknya seorang yang taat hukum, tentu saja jawabannya adalah, penting! Hehe peace ah..

Apa itu NPWP?

Tapi tentu ada alasan kenapa gw jadi “wajib” meng-update alamat NPWP. Tapi sebelum itu, gw jelasin dulu apa itu NPWP. Barang kali aja ada yang belum punya wkwkwk (sambil tepok jidat).

NPWP itu kepanjangannya; Nomor Pokok Wajib Pajak. Sebenernya, NPWP itu wajib dimiliki oleh seluruh warga negara yang sudah cukup umur. Tapi ternyata masih banyak loh yang belum punya, tapi ya sudah lah. Nah, ketika kita membuat NPWP maka akan memperoleh SKT dan Kartu NPWP. SKT itu Surat Keterangan Terdaftar. Kalian akan mendapatkan selembar surat yang menyatakan kalian sudah terdaftar dengan keterangan ini itu. Sedangkan Kartu NPWP itu mirip KTP tanpa foto. Ada nama, nomor dan alamat.

Alamat yang tertera adalah alamat KTP yang saat digunakan untuk mendaftar. Dan jika kita pindah alamat KTP, maka kita harus mengurus pindah alamat pada NPWP juga.

Lalu bagaimana dengan kasus gw?

Oke, jadi gw pindah alamat dari Jakarta Barat ke Jakarta Selatan. Dan tentu alamat KTP gw juga berubah yang menyebabkan alamat NPWP jadi berbeda dengan KTP.

Sebenarnya, kalo saja tidak ada alasan yang “mengharuskan”, mungkin gw gak akan urus pindah alamat NPWP hehe.. Gw kan orang paling males sedunia haha..

Tapi.. Karena gw harus mendirikan sebuah PT, maka mau nggak mau, gw harus punya NPWP yang sesuai alamat KTP! Hahaha.. Eits, tapi pindah alamat itu penting ya.. Terutama agar tetap menjadi warga negara yang baik.

Sekarang agak serius, Kenapa kita harus pindah alamat NPWP sesuai KTP?

Sesungguhnya pindah alamat NPWP itu juga memindahkan administrasi pengurusan perpajakan.

Kantor Pajak di Jakarta dibagi dalam beberapa wilayah administrasi sesuai Kecamatan. Jadi, tiap-tiap kecamatan memiliki kantor pelayanan. Dan jika kita tidak pindah, maka pelayanan pajak kita akan diurus di alamat lama yang bisa jadi sangat jauh.

Bagaimana prosesnya?

Sekarang, kita masuk ke tujuan awal kita, yaitu pengalaman gw mengurus pindah alamat NPWP.

Awalnya tentu gw cari-cari info baik cek di pajak.go.id maupun tanya melalui chat-nya. Nah, berdasarkan info itulah gw mulai proses pindah alamat NPWP:

1. Proses Cabut Berkas Tahap 1 (Memasukkan formulir)

Hal pertama yang harus dilakukan adalah Cabut Berkas. Yang dimaksud cabut berkas adalah; karena saat itu gw masih terdaftar di Kantor Pajak Kecamatan Kembangan Jakarta Barat, maka gw harus cabut dulu berkas gw dari Kantor Pajak tersebut. Sebenarnya gak cuma cabut berkas, tapi sekaligus mengarahkan alamat baru.

Gw harus datang ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama) Kembangan Jakarta Barat. Di sana, gw tanya ke satpam, kalo gw mau pindah alamat (gw nanya karena setiap Kantor Pajak punya lay out dan sistem antrian yang berbeda-beda).

Sejujurnya gw gak suka suasana KPP Kembangan ini. Kurang memiliki suasana melayani.

Selanjutnya, gw disuruh mengambil nomor antrian dan juga ambil formulir pindah alamat NPWP. Kemudian nunggu dipanggil.

Nah, berbeda dengan Kantor Pajak yang lain (yang biasa gw datangi), pembagian tugas antar para petugas di KPP Kembangan sangat membingungkan. Selain itu meja pelayanannya pun seperti tidak niat melayani. Tidak ada kursi di depan petugas!

Nomor urut gw masih lama, tapi tiba-tiba dipanggil petugas yang menanyakan tujuan gw. Waktu gw bilang mau pindah alamat NPWP, dia langsung mempersilakan gw buat maju menyerahkan formulir pindah alamat. Aneh kan? Trus apa gunanya nomor urut?

Kemudian dia minta Kartu NPWP asli dan fotocopy KTP baru. Dan jangan lupa bawa juga Kartu Keluarga karena siapa tahu diminta. Jaga-jaga gak ada salahnya kan?

Gak lama, petugas akan memberikan tanda terima yang menjadi bukti bahwa gw sudah menyampaikan dokumen. Dan petugas juga bilang, untuk datang kembali setelah 5 hari kerja untuk ambil berkas.

2. Proses Cabut Berkas Tahap 2 (Mengambil Berkas)

Seminggu kemudian, gw datang lagi ke KPP Kembangan Jakarta Barat. Lagi, gw tanya satpam cara ambil berkas. Dan gw disuruh langsung ke petugas yang berada paling pojok. Tanpa mengambil antrian.

Ada mbak-mbak petugas di belakang podium. Gw bingung, nyebutnya apa. Karena itu bukan meja, terlalu tinggi! Dan sekali lagi, gak ada kursi buat kita. Dan gw bilang mau ambil berkas pindah alamat NPWP.

Petugas itu masuk ke ruangan dan gak lama muncul kembali dengan entengnya bilang, berkas belum selesai. Whaat?!!!

Gw pun bilang, kemarin katanya 5 hari kerja loh Mbak..

Bukannya apa-apa, KPP Kembangan itu jauh dari tempat tanggal gw yang baru. Susah payah gw luangkan waktu dan tenaga, eh enak banget bilang, berkas belum selesai.

Petugas itu masuk lagi dan kali ini muncul bersama petugas yang lain hanya untuk bilang kalimat yang sama, berkas belum selesai.

Gw pun bilang lagi, kok belum selesai, kemarin katanya 5 hari kerja..

Eh, rupanya petugas yang baru muncul tadi gak terima dan malah bilang, “Siapa bilang 5 hari? 10 hari kerja harusnya.”

Gw jawab, “Petugas kemarin yang bilang 5 hari kerja..”

Si Mbak Petugas makin sewot, “Loh, saya yang ngurusin berkasnya, kalo saya bilang 10 hari kerja ya 10 hari kerja!”

Kemudian dia langsung masuk lagi ke ruangan.

Gw kaget dan bengong. Ini pertama kalinya gw dimarahi oleh petugas pelayanan! Si Mbak Petugas yang pertama, yang tadi memanggil, cuma bisa diam. Dan gw pun tanya lagi ke dia, “Mbak, saya gak masalah mau 10 hari kerja, 30 hari, 1 tahun, kalo memang aturannya emang begitu. Bisa tunjukin gak aturan yang bilang prosesnya 10 hari kerja?”

Dia cuma mengangguk dan masuk lagi. Dan muncul lagi tapi sendirian. Gw harus menunggu katanya.

Gw menunggu lama. Dan gw juga harus berdiri. Meskipun ada kursi tunggu. Tapi saya sengaja berdiri di depan, biar terlihat serius hehe..

Akhirnya muncul lagi si Mbak yang marah tadi. Kali ini bilang, “Emang peraturannya 5 hari kerja, tapi ini berkasnya belum turun dari atas! Jadi belum bisa saya proses. Kalau mau urus sendiri silakan naik ke atas sendiri aja. Ketemu dia.”

“Oke..”, gw jawab. “Namanya siapa?”

Akhirnya gw naik ke atas buat ketemu dengan petugas yang katanya mengurus berkas gw. Tapi ternyata cuti dan baru selesai pekan depan! haha..

Senin berikutnya, gw ketemu dengan petugas yang cuti tersebut, tapi dia bilang, bukan dia yang urus berkas gw hahaha! Harusnya orang lain. Dan parahnya, ternyata dia baru dipindah ke Kantor tersebut. Tapi setidaknya, ibu petugas ini sangat ramah. Dan dia berjanji akan menyampaikan ke petugas yang berwenang dan besok gw diminta datang lagi.

Gw gak mau ambil resiko bolak balik, jadi gw tunggu beberapa hari lagi baru kesana.

Gw langsung ketemu Petugas di balik “podium” dan dia ternyata langsung ingat. Dia pun masuk dan muncul kembali dengan berkas gw yang sudah jadi.

3. Proses Pengurusan di KPP alamat baru

Karena waktu masih siang, dari KPP Kembangan Jakarta Barat, gw langsung ke KPP alamat baru di Jakarta Selatan.

Nah, KPP yang ini sangat profesional. Nomor antrian jelas, dibagi dalam beberapa jenis tujuan. Dan terdapat petugas dengan fungsi masing-masing. Dan yang paling penting, mereka duduk di belakang meja pelayanan dan di depannya terdapat kursi untuk kita duduk!

Gw menunggu 2 antrian tapi tidak lama. Dan meski sudah jam makan siang, tapi petugas masih tetap lanjut melayani. Dan gw dipanggil.

Gw serahin berkas yang sebelumnya gw ambil dari KPP Kembangan ke mas-mas petugas. Kemudian dia ketik-ketik sebentar di komputer dan tak lama kemudian gw memperoleh Kartu NPWP yang baru!

Gw bengong. “Ini sudah, Mas? Gini aja?”

“Iya, sudah. Kecuali Bapak ada hal lain?”

Cepat banget! Ternyata, di KPP yang baru, gw cuma cetak kartu doang. Karena data sudah dipindahkan.

Kesimpulan

Jadi, kalo semua lancar, maka proses pindah alamat itu cuma Butuh 5-6 hari kerja! Dan cukup wira wiri 3 kali aja, ke KPP lama 2 kali untuk kirim formulir dan ambil berkas, dan ke KPP baru 1 kali aja.

Tapi ternyata juga, masih ada petugas pelayanan pajak yang gak punya jiwa melayani. Dan, inilah lucunya di Indonesia, di mana pegawai negeri merasa dirinya lebih tinggi derajatnya ketimbang kita yang “cuma” wiraswasta. Mereka lupa kalo mereka itu dibayar oleh kita.

Tapi ya sudah lah, itu hanya oknum. Masih banyak petugas pajak yang baik dan ramah. Dan masih banyak Kantor Pajak yang memberikan pelayanan Profesional.

So, gitu aja ya.. Semoga bermanfaat..

Iklan

Ketika setoran PPN Masa kelebihan (Setor lebih besar dari nilai Kurang Bayar)

Pernah gak, karena salah hitung, setoran PPN Masa ke Kantor Pajak kelebihan (lebih banyak dari yang seharusnya)? Gw pernah! Solusinya? Lanjutin bacanya ya..

Latar Belakang..

Bulan Februari 2018 ini, gw harus setor PPN Masa ke kantor Pajak dari hasil transaksi penjualan. Semestinya, sebelum melakukan pembayaran, hitung semua komponen pajak dengan teliti.

Pertama, berapa PPN Keluaran (PPN yang kita pungut dari Customer karena membeli produk kita)? Kedua, berapa PPN Masukan (PPN yang kita bayarkan ke pemasok saat kita Belanja bahan material). Kemudian, lakukan pengurangan (PPN Keluaran – PPN Masukan). Dan, itulah PPN Masa yang harus disetor.

Nah, disinilah letak kesalahan gw. Kurang teliti! Baca lebih lanjut

Cara Orang Awam Memahami Pajak : Wajib Pajak

Disclaimer: Gw bukan petugas Pajak, bukan juga akademisi perpajakan apalagi ahli perpajakan. Gw hanyalah wajib Pajak yang pengen berbagi pengalaman saat berurusan dengan perpajakan.

Halo semua apa kabar? Selalu semangat ya..

Kali ini gw mau ngajak kalian memahami istilah; “Wajib Pajak” tapi dengan caranya orang awam. Sebenernya sih, kalian bisa aja buka UU Perpajakan dan di sana ada informasi yang jelas. Tapi gw cuma pengen menulisnya dengan cara yang sangat sederhana aja.

Topik ini nampaknya sepele, tapi ini menjadi pondasi buat kalian yang harus berurusan dengan perpajakan, baik sebagai karyawan, pengusaha maupun pemilik badan Usaha.

 Yuk kita mulai dengan pertanyaan, siapa sebenernya Wajib Pajak itu? Baca lebih lanjut

Prinsip Akuntansi : Ikhtisar (1)

Halo semua.. Yuk belajar Akuntansi lagi.. hehe
Yup.. Kalian gak salah dengar, gw ngajakin kalian buat belajar Akuntansi lagi. Tapi kali ini, kita belajar yang lebih serius.
Makanya gw kasih judul seri tulisan ini; “Prinsip Akuntansi”.

Tenang.. Gak akan seserius itu juga kalee. Emang gw dosen haha.. Dan kita akan mulai dari awal..

Apa..??!! Dari awal lagi?

Hehe.. Iya.. Tapi tenang.. Ini beda dengan seri sebelumnya; “Cara Orang Awam Belajar Akuntansi” yang disusun tanpa kaidah pembelajaran baku. Pokoknya yang penting gimana caranya orang yang paling awam bisa ngerti apa itu Akuntansi. Dan pasti banyak hal yang disederhanakan atau dilewati. Jadi gak akan bisa jadi rujukan. Nah.. Seri ini; “Prinsip Akuntansi” adalah versi baku-nya. Baca lebih lanjut

Mengenal Jenis-Jenis Pajak di Indonesia

Halo semua..

Kalau kalian penasaran dengan Pajak-Pajak yang ada di Indonesia, gw sudah upload video Mengenal Pajak di Youtube.

Di Video tersebut, kalian akan tahu apa saja cara pemerintah memperoleh dana setoran dari rakyatnya. Baik yang dalam bentuk pajak, maupun non pajak.

Selain itu, akan dikupas secara singkat apa itu Pajak Penghasilan, PPN, PBB, Cukai dan lain sebagainya.

Semoga bermanfaat.