Mengenal Cloud Computing (Komputasi Awan)

Kesempatan kali ini, gw mau menyapa kalian dengan menulis artikel tentang Komputasi Awan (Cloud Computing).

Kalian pasti sering denger dong istilah Cloud? Apalagi kalau kalian sering pakai Google Drive, OneDrive, DropBox dan lain-lainnya. Nah, biar kekinian, boleh dong kita pelajari apa itu Cloud atau lebih lengkapnya Cloud Computing.

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah Komputasi Awan, tapi gw lebih suka tetap menggunakan istilah Cloud Computing biar kita gak bingung aja. Dan, pembahasan tentang Cloud Computing sebenarnya cukup komplek, tapi kita coba kupas permukaannya aja ya. Setidaknya kita gak plonga plongo gitu kalo ada yang ngebahas tentang Cloud.

Yuk, kita mulai..

Sebelum kita mulai, jika nanti artikel ini bermanfaat untuk kalian, boleh dong bantu supaya blog ini tetap online dan update. Caranya gampang kok, cukup klik pada Iklan yang muncul aja..

Apa itu Cloud Computing?

Cloud Computing terjadi saat kalian mengakses layanan komputasi seperti Server, Storage (penyimpanan), Networking (jaringan) dan Software melalui Internet (Cloud) dari sebuah penyedia layanan. Contoh sederhananya adalah; kalau biasanya kita menyimpan dokumen dan foto pribadi di harddisk Komputer, tapi sekarang orang lebih suka menyimpannya secara “online”. Dan itulah Cloud Computing.

Jadi, kata kuncinya adalah Cloud atau Internet.

Dulu, kita simpan dokumen dan foto di harddisk Komputer, tapi sekarang, kita menyimpannya di tempat penyimpanan yang dikelola oleh penyedia layanan penyimpanan. Dan untuk mengaksesnya harus melalui Internet. Ini adalah contoh yang paling sederhana.

Dulu, ketika ingin membuat website, sebuah perusahaan (atau kita) akan membeli sebuah komputer server kemudian kita install software sehingga dapat diakses menggunakan web browser. Tapi sekarang, perusahaan (atau orang) lebih suka untuk menggunakan server yang dikelola oleh penyedia layanan dan kita cukup mengatur dan mengaksesnya melalui Internet. Nah, ini contoh yang sedikit lebih komplek.

Tapi ternyata, Cloud Computing tidak hanya itu. Seiring dengan perkembangan teknologi, Cloud Computing kini telah membesar dan meluas.

Penyedia Layanan Cloud Computing

Sebelum kita masuk lebih dalam, ada baiknya kita mengenal perusahaan Penyedia Layanan Cloud Computing. List berikut ini berdasarkan Market Share (besar pasar):

  1. Amazon Web Services (AWS)
  2. Microsoft Azure
  3. Google Cloud Platform
  4. IBM Cloud
  5. Oracle Cloud
  6. Alibaba Cloud

Dan tentunya masih banyak penyedia layanan lainnya seperti:
VMware, Cisco, SalesForce, SAP, Workday, Digital Ocean, Linode, RackSpace, MassiveGrid, Kamatera, LiquidWeb, Verizon Cloud, Navisite, OpenNebula, Pivotal, CloudSigma, Dell Cloud, LimeStone, Quadranet, DropBox, GoToMeeting, OpenShift, Heroku, Force.com, Apache Stratos, dan lain-lain.

Layanan-layanan Dalam Cloud Computing

Seperti yang sebelumnya disampaikan, layanan Cloud Computing berkembang dan akan terus berkembang. Dari sekedar tempat penyimpanan, kini telah berkembang hingga IoT dan bahkan AI/Machine Learning. Mungkin butuh artikel terpisah untuk membahas masing-masing layanan Cloud Computing, namun berikut adalah uraian singkatnya.

Storage (Tempat Penyimpanan)

Layaknya kita menyimpan dokumen, foto atau video ke dalam harddisk di Komputer kita, tapi kali ini harddisk tersebut berada di tempat lain yang bisa jadi berada di luar pulau, di luar negara kita, bahkan di luar benua kita. Dan untuk menyimpan maupun mengambilnya, kita harus terhubung melalui Internet.

Mungkin awalnya terdengar sederhana, namun ternyata ada banyak hal yang harus diperhatikankan mulai dari, berapa besar data yang akan disimpan? Berapa cepat data dapat diakses? Berapa sering data akan berubah? Dan masih banyak lagi lainnya. Dan untuk memenuhi hal tersebut muncul layanan-layanan baru yang sesungguhnya terkait dengan layanan penyimpanan. Contoh layanan Penyimpanan yang umum; di Microsoft Azure kalian akan mengenal layanan Disk Storage, di AWS kalian mengenalnya sebagai Simple Storage Service (S3) sedangkan di Google Cloud kalian akan mengenalnya sebagai Cloud Storage. Contoh lainnya adalah layanan yang berguna untuk mengarsipkan data. Yaitu, data yang akan sangat jarang digunakan karena data-data lama dan pastinya sangat besar. Maka muncul layanan Archived Storage (Azure) atau S3 Glacier (AWS) atau Cloud Storage (Google).

Compute (Komputasi)

Layanan ini mungkin terdengar memusingkan, tapi sesungguhnya cukup mudah dipahami. Bayangkan kalian hanya memiliki sebuah komputer dengan spesifikasi yang minim, yang jika digunakan untuk menjalankan program aplikasi yang berat menjadi “hang”. Padahal, jika sekedar untuk Browsing sangat cukup memadai dan baik-baik saja.

Suatu hari, ternyata kalian harus membuat sebuah web server yang tentu tidak mungkin dibuat di Komputer kalian yang ala kadar itu. Sedangkan untuk membeli sebuah server, kemudian memastikan server selalu menyala 24/7 jam tanpa pernah mati dan error, kemudian memastikan data terjaga dengan baik, tentu akan membutuhkan biaya yang mahal. Nah, di sinilah layanan Compute ini dibutuhkan.

Penyedia Layanan menyediakan sebuah Virtual Machine yang dijalankan di Cloud. Jadi, kalian seperti memiliki sebuah komputer/server sendiri, tapi berada nun jauh di sana dan hanya dapat diakses melalui Internet. Kalian bisa meng-install software hingga membuat web server dan sebagainya tanpa harus pusing membeli Komputer, memasangnya, memastikan memiliki UPS, genset dan tak perlu takut masalah back-up data karena semua dilakukan oleh penyedia layanan.
Contoh salah satu layanan Compute adalah Virtual Machine (Azure) atau Elastic Compute Cloud (AWS) atau Compute Engine (Google). Dan tentu masih banyak layanan lainnya terkait Compute.

Database

Tidak semua orang membutuhkan layanan ini, tapi seorang Developer atau pemilik usaha pasti membutuhkan Database. Jika kalian sering menggunakan Excel, dan data kalian sangat besar, bisa jadi kalian membutuhkan Database. Jika kalian sudah menggunakan MS Access, maka sudah dipastikan kalian membutuhkan Database, karena MS Access adalah salah satu Program Database.

Seorang Developer dan pemilik usaha, membutuhkan program Database yang jauh lebih besar dan handal dari MS Access seperti SQL Server, MySQL, PostgreSQL, Oracle dan lain sebagainya. Database dibutuhkan untuk menyimpan Data secara terstruktur sehingga mudah diambil maupun diletakkan oleh sebuah aplikasi. Program Database ini diletakkan di sebuah Komputer.

Pada layanan Cloud, Database ini diletakkan di komputer yang dikelola oleh Penyedia Layanan Cloud yang berada jauh dari kita. Dan kita sebagai pemilik Database, dapat mengaksesnya melalui Internet. Contoh layanan ini adalah Azure SQL Database (Azure) atau Amazon Aurora (AWS) atau Cloud SQL (Google).

Networking

Istilah-istilah ini mungkin akan membingungkan jika kalian bukan penggemar IT; Virtual Network, DNS, DDoS Protection, FireWall, dan lain-lain. Tapi inilah yang disediakan Penyedia Layanan Cloud untuk orang-orang IT.

Misalkan Virtual Network, ini adalah layanan seperti sebuah LAN pada sebuah perusahaan. LAN hanya dapat diakses oleh orang-orang tertertentu yang kemudian dapat saling berbagi file, hardware dan lain sebagainya. Virtual Network bekerja layaknya LAN namun sesungguhnya berada di dalam Internet. Meskipun pada dasarnya Internet adalah sebuah jaringan yang terbuka untuk siapapun, seperti jalan umum yang tiap orang boleh memakainya, namun dengan Virtual Network, beberapa orang yang terhubung di Internet bisa seolah-olah berada di dalam LAN yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja. Layanan ini di Azure disebut Virtual Network atau Amazon VPC (AWS) atau Virtual Private Cloud (Google)
Tentunya masih banyak layanan lainnya terkait Networking.

IoT

Internet of Thing adalah teknologi yang baru-baru ini saja mulai booming. Meskipun telah dirumuskan sejak lama, namun di beberapa tahun terakhir ini saja mulai banyak yang menerapkan. Pada dasarnya, Internet of Thing adalah sebuah konsep agar bagaimana semua Device (Thing) dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya menggunakan Internet tanpa campur tangan User.

Device ini bisa apa saja; misalkan jam, komputer, lampu, kompor, kulkas, alat penyiram tanaman, alat-alat industri dan lain sebagainya. Mereka harus dilengkapi kemampuan untuk mengirimkan data melalui Internet yang selanjutnya akan diolah dan hasilnya akan dikirimkan ke Device lain untuk mengambil tindakan. Misalkan sebuah Kulkas yang memiliki sensor untuk mengetahui makanan apa saja yang habis yang otomatis akan memesan makanan tersebut melalui internet. Atau sebuah perkebunan yang memiliki sensor untuk mengetahui kelembaban tanah yang jika sudah melewati batas tertentu akan memerintahkan alat penyiram untuk menyiramkan air dan semua data dapat dilihat oleh pemilik dari manapun melalui Internet.

Penyedia layanan melihat ini sebagai potensi bagi mereka untuk menjual produk yang sesuai, yaitu IoT platform. Mereka menyediakan layanan-layanan Cloud yang mendukung IoT.

AI/Machine Learning

Artificial Intelligent / Machine Learning juga adalah teknologi yang saat ini mulai diminati. Ini adalah sebuah teknologi yang membuat sebuah mesin dapat belajar dari kesalahan sebelumnya dan kemudian melakukan hal yang benar salanjutnya. Misalkan sebuah mobil mainan yang dilengkapi dengan AI, pada awalnya, ia akan berjalan lurus namun kemudian menabrak karena ternyata jalan berbelok. Pada usaha berikutnya, dia akan tahu bahwa di titik tertentu dia harus berbelok. Dia akan terus belajar dan belajar hingga akhirnya mampu melewati jalan tanpa menabrak.

Penerapan AI bisa di bidang apapun. Misalkan untuk mengubah perkataan ke dalam tulisan atau sebaliknya, bahkan menerjemahkan bahasa dan masih banyak hal lainnya. Namun penerapan AI membutuhkan sebuah komputer yang sangat cepat dan memiliki penyimpanan yang besar. Oleh karena itu, keberadaan Cloud dengan kemampuan Komputasi-nya dapat menjadi solusi.

Apakah cuma itu saja? Tentu tidak. Masih banyak lagi layanan-layanan Cloud lainnya.

Mengenal IaaS, PaaS dan SaaS

Untuk dapat menyediakan layanannya, para Penyedia Layanan Cloud harus memiliki Hardware dan sistem-nya, yaitu sebagai berikut:

Hardware:

  • Networking
  • Storage
  • Servers

Sistem:

  • Virtualization
  • Operating System (O/S)
  • Middleware
  • Runtime
  • Database
  • Application

Untuk mengetahui fungsi masing-masingnya silakan baca di artikel terpisah karena hal tersebut membutuhkan pembahasan yang luas. Di sini kita hanya akan membahas perbedaan IaaS, PaaS dan SaaS.

Oke, kita lanjutkan ya..

Penyedia Layanan Cloud dikatakan menyediakan layanan IaaS (Infrastructure as a Service), jika dia menyediakan layanan pengelolaan Networking, Storage, Servers dan Virtualization saja. Jadi, Penyedia Layanan hanya akan mengurusi Hardware-nya saja sampai Virtualization. Masalah O/S dan sistem lainnya diserahkan secara bebas kepada kita.

Penyedia Layanan Cloud disebut sebagai PaaS (Platform as a Service), jika mereka mengelola hingga sistem Runtime-nya saja. Sedangkan pengelolaan Database dan Aplikasi diserahkan secara bebas kepada kita.

Dan jika Penyedia Layanan Cloud menyatakan diri sebagai penyedia SaaS (Software as a Service), artinya mereka mengelola semua-nya, sedangkan kita tinggal tenang-tenang saja menggunakan layanan tersebut. Pokoknya, kita tau-nya pakai saja tinggal beres. Gak perlu pusing bagaimana kalau listrik mati, O/S apa yang kita pakai, bagaimana kalo O/S nya error, atau bagaimana membuat aplikasinya, dan bagaimana jika aplikasinya error dan masalah-masalah lainnya.

Terkadang, sebuah perusahaan Penyedia Layanan Cloud SaaS, sesungguhnya tidak memiliki Hardware. Mereka menggunakan layanan IaaS dari Penyedia Layanan Cloud lainnya. Dan ini adalah praktek yang lumrah. Karena mereka ingin fokus pada pengelolaan Database dan Aplikasi-nya saja dan itulah yang mereka jual ke kita.
Namun, ada juga perusahaan Penyedia Layanan Cloud yang menyediakan semua layanan baik IaaS, PaaS dan SaaS seperti Microsoft, Amazon Web Services, Google, Alibaba dan lain-lain.

Kenapa (Siapa) Butuh Cloud Computing?

Tentu kalian sudah sangat akrab dengan Gojek, Tokopedia, Grab, Bukalapak dan lain-lain kan? Nah, mereka ini sesungguhnya adalah pengguna layanan Cloud.
Bisa jadi mereka menggunakan layanan IaaS atau bahkan PaaS. Atau kalian pernah menggunakan DropBox, GoogleDrive, OneDrive? Nah, berarti kalian adalah pengguna dari layanan SaaS.

Saat ini, Cloud Computing menjadi hal yang biasa baik oleh kita sebagai End User, maupun oleh para pelaku usaha.

Komputasi; On-Cloud, On-Premises dan At The Edge, apaan tuh?

Jika ada Cloud, tentu ada lawannya. Yup.. Lawan dari Cloud Computing adalah On-Premises Computing. Bahkan sekarang dikenal satu lawan baru lagi yaitu At The Edge Computing. Lalu apa perbedaannya? Apakah mereka saling menjatuhkan?

Sebenarnya, saat ini mereka saling bersinergi karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, yuk kita pahami dulu apa itu On-Cloud, On-Premises dan At The Edge Computing.

Dikatakan Computing On-Cloud jika proses komputasi-nya dilakukan di suatu tempat yang dikelola oleh pihak lain yaitu Penyedia Layanan Cloud. Kita dapat mengaksesnya melalui Internet. Dan kita sudah membahasnya di atas.

Sedangkan Computing On-Premises adalah jika proses komputasi-nya dilakukan di tempat kita sendiri. Artinya, kita memiliki komputer sendiri dan semua kita kelola sendiri.

Dan ada istilah baru adalah At The Edge Computing, yaitu jika proses komputasi-nya berada di tempat terdekat dengan hal yang dikomputasi. Agak membingungkan ya?
Oke, kita jabarkan ya..

Jadi, istilah At The Edge Computing ini muncul seiring makin populernya IoT (Internet of Thing). Yaitu dimana semua Device dapat berkomunikasi satu sama lain melalui Internet. Nah, karena Device harus berkomunikasi dengan Device lainnya, maka dia harus memiliki kemampuan komputasi. Sebenarnya ada 2 pilihan, apakah proses komputasi dilakukan di Cloud atau dilakukan di Device. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan saja. Jika dilakukan di Device, maka inilah yang disebut dengan At The Edge Computing (Komputasi yang dilakukan dititik ujung).

On-Cloud vs On-Premises

Kelebihan dari Cloud Computing adalah kita tidak perlu pusing terkait perangkatnya dimana harus upgrade, update dan lain sebagainya. Juga pengelolaan terkait listrik, pendingin ruangan dan sebagainya. Bahkan kita tidak perlu pusing terkait pengelolaan sistemnya. Bahkan, Cloud Computing dilengkapi kemampuan back-up yang jika kita lakukan sendiri akan membutuhkan double cost.

Jadi, kelebihan On-Cloud adalah Biaya keseluruhan akan lebih murah. Lebih realiable (bisa diandalkan) dan masih banyak kelebihan-kelebihan lainnya.

Namun, bukan berarti On-Cloud lebih baik dari On-Premises, karena pada akhirnya, Penyedia Layanan Cloud juga menyediakan layanan Hybrid yaitu layanan untuk men-sinergikan antara On-Cloud dan On-Premises Computing.

Oke deh.. Sepertinya artikel tentang Cloud gw cukupin dulu ya.. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa..

Oya, jika kalian suka dengan artikel-artikel di-blog ini, bisa dong bantu supaya blog ini selalu online dan update? Caranya gampang kok, klik Iklan yang muncul aja.. Oke ya..

See ya..

Perpanjang SIM di SIM Keliling

Buat teman-teman yang sudah memiliki SIM dan usia SIM-nya udah 5 tahun, maka bersegeralah kalian tobat, eh, segeralah kalian perpanjang!

Inget ya temen-temen, perpanjang SIM itu gak boleh kecepetan dan gak boleh kelewatan.

Mungkin temen-temen tipe orang yang rajin, maka perpanjang SIM-nya setahun sebelum kadaluarsa. Nah, itu gak boleh. SIM boleh diperpanjang kalo sebulan lagi mau kadaluarsa.

Wah, gimana kalo lupaan?

Tenang, batas masa berlaku SIM itu sama dengan Tanggal Ulang Tahun. Jadi, kalo masih lupa aja, itu mah kebangetan. Jadi patokannya, kalo sebentar lagi udah mau ulang tahun, cek SIM-nya. Nah, karena usia SIM itu 5 tahun, maka paling banter kalian cuma bakalan 5 kali nge-cek SIM.. Jangan sampe yang tau duluan kalo SIM kadaluarsa adalah pak Polisi hehehe..

Dan jangan sampe kadaluarsa, karena kalian harus mulai dari awal. Test ini itu dan lain-lain. Dan pastinya gak bisa di SIM Keliling!

Nah, kali ini, gw mau berbagi pengalaman perpanjang SIM di SIM Keliling!

Apaan itu SIM Keliling?

Baca lebih lanjut

Belanja di Alibaba.com menggunakan Jasa Pengiriman DHL

Halo semua.. Gak kerasa udah lama juga gw gak nulis di sini. Nah, mumpung gw ada bahan tulisan yang bagus, gak ada salahnya gw share di sini.

Ya, sesuai judulnya, kali ini gw akan share pengalaman gw belanja di alibaba.com menggunakan Jasa Pengiriman DHL. Hmm, sebenernya sih bukan “gw”, lebih tepatnya perusahaan gw, CV MERZ Engineering. Ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang Mechanical, Electrical dan Automation. CV MERZ Engineering bisa mengerjakan Design dan Engineering, Instalasi, Commissioning dan suplai material. Loh, kok jadi ngelantur.. Lebih jelasnya kalian klik aja https://merz.co.id, iklan dikit gak apa apa kan? hehe..

Oke, kita kembali ke topik ya..

CATATAN:
Ini bukan kisah sukses ya.. Gw baru nyobain pertama kali, dan dari sini ada banyak hal yang akhirnya gw pelajari..

Latar belakang ceritanya adalah, perusahaan gw (CV MERZ Engineering) dapat order untuk suplai material ke customer. Kebetulan, merk yang harus disuplai adalah produk China. Awalnya kita sudah dapat info barangnya dari distributor lokal, tapi pas dapat order, eh ternyata barang sudah out of stock.. Hadeeh..

Terpaksa deh belanja langsung dari negara api, eh negeri China..

Cara yang paling gampang adalah, lewat alibaba.com. Cukup buka aplikasi, search materialnya, eh langsung dapat kontak produsen produk tersebut. Lalu apa yang harus dilakukan?

Baca lebih lanjut

Pindah Alamat NPWP Agar Sesuai KTP

Halo semuanya, gw akan berbagi pengalaman tentang pindah alamat NPWP agar sesuai KTP. Pertanyaannya, penting kah mengurus itu?

Well, jawabannya sebenernya situasional atau sesuai kebutuhan haha.. Tapi, layaknya seorang yang taat hukum, tentu saja jawabannya adalah, penting! Hehe peace ah..

Apa itu NPWP?

Tapi tentu ada alasan kenapa gw jadi “wajib” meng-update alamat NPWP. Tapi sebelum itu, gw jelasin dulu apa itu NPWP. Barang kali aja ada yang belum punya wkwkwk (sambil tepok jidat).

NPWP itu kepanjangannya; Nomor Pokok Wajib Pajak. Sebenernya, NPWP itu wajib dimiliki oleh seluruh warga negara yang sudah cukup umur. Tapi ternyata masih banyak loh yang belum punya, tapi ya sudah lah. Nah, ketika kita membuat NPWP maka akan memperoleh SKT dan Kartu NPWP. SKT itu Surat Keterangan Terdaftar. Kalian akan mendapatkan selembar surat yang menyatakan kalian sudah terdaftar dengan keterangan ini itu. Sedangkan Kartu NPWP itu mirip KTP tanpa foto. Ada nama, nomor dan alamat.

Alamat yang tertera adalah alamat KTP yang saat digunakan untuk mendaftar. Dan jika kita pindah alamat KTP, maka kita harus mengurus pindah alamat pada NPWP juga.

Lalu bagaimana dengan kasus gw?

Oke, jadi gw pindah alamat dari Jakarta Barat ke Jakarta Selatan. Dan tentu alamat KTP gw juga berubah yang menyebabkan alamat NPWP jadi berbeda dengan KTP.

Sebenarnya, kalo saja tidak ada alasan yang “mengharuskan”, mungkin gw gak akan urus pindah alamat NPWP hehe.. Gw kan orang paling males sedunia haha..

Tapi.. Karena gw harus mendirikan sebuah PT, maka mau nggak mau, gw harus punya NPWP yang sesuai alamat KTP! Hahaha.. Eits, tapi pindah alamat itu penting ya.. Terutama agar tetap menjadi warga negara yang baik.

Sekarang agak serius, Kenapa kita harus pindah alamat NPWP sesuai KTP?

Baca lebih lanjut

Ketika setoran PPN Masa kelebihan (Setor lebih besar dari nilai Kurang Bayar)

Pernah gak, karena salah hitung, setoran PPN Masa ke Kantor Pajak kelebihan (lebih banyak dari yang seharusnya)? Gw pernah! Solusinya? Lanjutin bacanya ya..

Latar Belakang..

Bulan Februari 2018 ini, gw harus setor PPN Masa ke kantor Pajak dari hasil transaksi penjualan. Semestinya, sebelum melakukan pembayaran, hitung semua komponen pajak dengan teliti.

Pertama, berapa PPN Keluaran (PPN yang kita pungut dari Customer karena membeli produk kita)? Kedua, berapa PPN Masukan (PPN yang kita bayarkan ke pemasok saat kita Belanja bahan material). Kemudian, lakukan pengurangan (PPN Keluaran – PPN Masukan). Dan, itulah PPN Masa yang harus disetor.

Nah, disinilah letak kesalahan gw. Kurang teliti! Baca lebih lanjut